Masuk dan Berkembangnya Muhammadiyah di Gowa : Muhammadiyah Borimatangkasa

Menurut Syamsuddin Daeng Nompo (Wawancara,15 Maret 2006). Bori Matangkasa Merupakan singkatan dari Bone, Ritaya, Majjalling, Tana Bangka, dan Binabbasa.

Jika ditelusuri data-data sejarah Muhammadiyah Bori Matangkasa, maka dapat diyakini bahwa Muhammadiyah di daerah ini telah ada sebelum masa kemerdekaan Republik Indonesia Merdeka (1945). Ini dibuktikan dengan kesaksian dari Tarfi Daeng Nangka (wawancara, 18 Maret 2006) bahwa pada tahun 1936, di Ritaya telah dibangun Mushallah Muhammadiyah yang diberi nama “Mushallah Nurul Hasanah”. Mushallah tersebut dibangun di atas tanah yang diwakafkan oleh Basarang Daeng Sarro kepada Muhammadiyah.

Seperti halnya daerah lain di Gowa, di masa lalu sebelum kehadiran Muhammadiyah, daerah Bone dan sekitarnya tidak terlepas dari berbagai kepercayaan animisme, dinamisme, dan toteisme. Kehidupan masyarakat banyak didominasi oleh tradisi-tradisi yang tidak berasal dari ajaran Islam, misalnya dalam penyelenggaraan upacara kematian, perkawinan, kelahiran, memanen hasil-hasil pertanian, Dari situasi yang demikian itulah Muhammadiyah berupaya mengadakan tabligh-tabligh dan pemusnahan terhadap saukang-saukang yang dianggap sebagai biang kemusyrikan.

“Saya ingat ketika seorang Muhammadiyah asal Padang di awal kehadiran Muhammadiyah di Bone, datang berceramah di salah satu malam Ramadhan, kemudian setelah selesai membawakan ceramah yang banyak menyinggung tentang bahayanya musyrik. Orang Padang tersebut dengan dibantu oleh Hasan Daeng Limpo imam kampung ketika itu, dan beberapa orang Muhammadiyah keluar dan mengadakan pemusnahan terhadap beberapa saukang yang ada ketika itu. Operasi tersebut dinamakan “Operasi Taubat”.

Semangat dakwah dan perjuangan para pengurus dan muballigh Muhammadiyah ketika itu memang patut untuk dipuji sebab walaupun dengan keterbatasan yang dimiliki namun semangat dan kegigihannya dalam menyebarkan paham Muhammadiyah tetap digencarkan, seperti yang dilakukan oleh daeng Badang, walaupun kedua matanya buta namun tidak menghalanginya untuk senantiasa mendakwahkan Muhammadiyah.

Untuk lebih memperkuat barisan dalam mengemban misi dakwah Muhammadiyah, serta agar lebih terorganisir maka tahun kemerdekaan yaitu sekitar tahun 1946 Muhammadiyah Ranting Bone didirikan dengan komposisi pengurusnya adalah:

  • Penasehat Wahab Rajab

  • Ketua Sangkala Taba

  • Sekretaris Tarfi Daeng Nangka

  • Bendahara Daeng Ngamba

  • Anggota

  1. Mursalim Daeng Sigollo

  2. Basarang Daeng Sarro

  3. Nunung Daeng Bani

  4. Daeng Daud

  5. Hayyun Daeng Bella

  6. Hasan Daeng Limpo

(Tarfi Daeng Nangka, 18 Maret 2006)

Dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah Ranting Bone pada tahun 1951 mendirikan Ibtidaiyah Muhammadiyah. Sekolah tersebut dibangun di atas tanah milik Sainong Daeng Tappa. Kepala sekolah ketika itu adalah Tarfi Daeng Nangka dengan dibantu oleh sejumlah guru di antaranya Hawiyah Daeng Lu’mu, Munir Gassing, dan Mursalim Daeng Sigollo (Tarfi Daeng Nangka, 18 Maret 2006).

Untuk lebih memperluas wilayah dakwah, maka Pengurus Ranting Bone mengusulkan untuk dijadikan sebagai cabang. Setelah menunggu sekitar tiga tahun (Tarfi Daeng Nangka, 18 Maret 2006), akhirnya pada tahun 1968, disetujui lah pengusulan tersebut. Hingga melalui surat Ketetapan Muhammadiyah Pusat nomor: 2.593/1968, resmilah berdiri Muhammadiyah Cabang Borimatangkasa pada tanggal 15 Januari 1968 (laporan PWM Sulsel 1991). Bersamaan dengan itu untuk membantu kerja operasional dakwah Muhammadiyah Cabang maka didirikan pula lah Ranting-Ranting Muhammadiyah dalam wilayah Muhammadiyah Cabang Borimatangkasa, yaitu:

  1. Ranting Muhammadiyah Bone, Ketua Mursalim Daeng Sigollo

  2. Ranting Muhammadiyah Ritaya, Ketua Amir Gassing

  3. Ranting Muhammadiyah Paranga, Ketua Rusdi Gassing

  4. Ranting Muhammadiyah Baji Pa’mai, Ketua Muhammad Abduh

  5. Ranting Muhammadiyah Bontosunggu, Ketua Daeng Rani

  6. Ranting Muhammadiyah Bonto Tangnga, Ketua Narang Daeng Ngempo

  7. Ranting Muhammadiyah Tana Bangka, Ketua Abdul Hamid Naba

Di samping itu Cabang juga melengkapi pengurus bagian-bagiannya yaitu:

  1. Aisyiyah

  • Ketua Rukiyah Daeng Sugi

  • Sekretaris Sarifah Daeng Caya

  1. Pemuda Muhammadiyah

  • Ketua Hanafi Sibali

  • Sekretaris Beta Daud

  1. Nasyiatul Aisyiyah

  • Ketua Nurhayati

  • Sekretaris Subaedah

(Tarfi Daeng Nangka, 18 Maret 2006)

Sedangkan pengurus Cabang Muhammadiyah Borimatangkasa yang pertama, antara lain: Sangkala Taba (ketua), Muhammad Tarfi Daeng Nangka (sekretaris), Abdurrahman Sila (bendahara) dan dibantu oleh beberapa anggota. Pengurus cabang tersebut dilantik oleh Wahab Rajab (Abdul Rahim Daeng Nya’la, 15 Maret 2006), Ketua Pimpinan Muhammadiyah Daerah Sulawesi Selatan Tenggara ketika itu (Radjab, 1999:176)

Mentari Bersinar di Gowa
Menelusuri jejak kehadiran Muhammadiyah di Gowa Tahun 1928-1968
Oleh Basri B Mattayang