Gotong Royong Menyemai Harapan di Masjid Wisata Muhammadiyah Gowa

Suara mesin molen beradu dengan denting sekop pada pagi yang cerah di kawasan Lapangan Dakwah Muhammadiyah, Mawang, Kabupaten Gowa. Di bawah rindangnya pohon mangga, puluhan warga bergantian mengangkat ember dan mendorong gerobak berisi adukan semen. Keringat membasahi pakaian mereka, sementara debu dan aroma semen basah menyatu dengan udara pedesaan yang hangat.

Di antara mereka, seorang pria berbaju biru tampak tersenyum sambil menerima ember dari rekannya. Celananya tergulung hingga betis, sandal jepitnya berlumur semen. Tidak ada pembeda antara pengurus, kader, maupun simpatisan. Semua larut dalam satu pekerjaan: membangun Masjid Wisata Muhammadiyah Gowa.

Pemandangan itu menjadi gambaran nyata semangat gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat. Warga datang dari berbagai latar belakang. Ada guru, petani, pedagang, pegawai, hingga mahasiswa. Sebagian menyumbangkan tenaga, sebagian membawa makanan, dan sebagian lainnya membantu melalui donasi material maupun dana pembangunan.

Masjid yang sedang dibangun ini bukan sekadar tempat salat. Muhammadiyah Gowa menyiapkannya sebagai pusat dakwah dan kegiatan sosial keumatan yang dapat melayani masyarakat dalam jangka panjang. Keberadaannya diharapkan menjadi ruang pertemuan umat, tempat belajar, berdiskusi, dan memperkuat syiar Islam di Kabupaten Gowa.

“Masjid ini milik umat. Karena itu, pembangunannya juga harus melibatkan umat,” ujar Drs. Taufiq, ketua panitia pembangunan Masjid Wisata Muhammadiyah. Baginya, keterlibatan masyarakat bukan hanya membantu mempercepat pekerjaan, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap masjid yang kelak akan digunakan bersama.

Gagasan pembangunan Masjid Wisata Muhammadiyah Gowa lahir dari kebutuhan akan fasilitas dakwah yang lebih representatif di kawasan Lapangan Dakwah Muhammadiyah. Selama ini lokasi tersebut menjadi pusat berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari salat Id, pengajian, pelatihan kader, hingga aktivitas sosial. Namun, belum tersedia masjid permanen yang mampu mendukung seluruh kegiatan tersebut secara optimal.

Semangat gotong royong yang terlihat di lokasi pembangunan mengingatkan pada nilai-nilai yang sejak lama menjadi kekuatan Muhammadiyah. Organisasi ini tumbuh melalui partisipasi masyarakat, dari pembangunan sekolah, panti asuhan, rumah sakit, hingga masjid. Di Mawang, tradisi itu kembali menemukan bentuknya melalui tangan-tangan yang bekerja tanpa pamrih.

drs. Baharuddin Mangka, Mantan Pengurus Muhammadiyah Gowa, Sekaligus Mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa, mengaku merasa bangga bisa ikut terlibat dalam pembangunan tersebut. Menurutnya, setiap ember semen yang diangkat menjadi bagian dari amal yang manfaatnya akan dirasakan banyak orang di masa depan. Ia mengatakan bahwa kelelahan selama bekerja terasa ringan ketika membayangkan masjid itu nantinya dipenuhi jamaah.

Pengurus pembangunan juga menegaskan bahwa partisipasi masyarakat masih sangat dibutuhkan. Mereka terus membuka ruang bagi jamaah dan masyarakat umum yang ingin berkontribusi, baik melalui tenaga, material, maupun sedekah pembangunan. Dukungan tersebut dinilai menjadi kunci agar proses pembangunan dapat berjalan hingga selesai.

Menjelang sore, pekerjaan hari itu berakhir. Para relawan pulang dengan pakaian yang kotor dan tubuh yang lelah. Namun di atas pondasi yang mulai terbentuk, tertinggal sebuah pesan sederhana: masjid ini tidak hanya dibangun dari beton, pasir, dan besi, melainkan juga dari kebersamaan. Ketika kelak azan pertama berkumandang dari Masjid Wisata Muhammadiyah Gowa, yang berdiri bukan hanya sebuah bangunan, tetapi juga monumen gotong royong warga yang menyatukan tenaga, harapan, dan amal jariyah untuk generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *