GOWA — Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bontomarannu kembali menggelar Pengajian Terpadu sebagai agenda pembinaan rutin bulanan di Balai Rakyat Desa Pakatto, Kecamatan Bontomarannu, Ahad, 7 Juni 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gowa, Dr. Muhammad Rizal Sulaiman, S.Pd., M.Pd.I., yang membahas keutamaan bulan Zulhijjah, hikmah ibadah kurban, serta pemahaman yang benar tentang bulan Muharram.
Pengajian yang diikuti warga Muhammadiyah dan masyarakat sekitar itu diselenggarakan sebagai sarana penguatan keislaman, silaturahmi, dan pembinaan umat. Melalui kajian tersebut, PCM Bontomarannu berupaya meluruskan berbagai pemahaman yang tidak sesuai dengan ajaran Islam sekaligus memperkuat optimisme umat dalam menyambut tahun baru Hijriah.
Ketua PCM Bontomarannu, Syahrir Arfan, S.E., M.H., M.Pd., menegaskan bahwa pengajian terpadu merupakan program yang secara konsisten dilaksanakan setiap bulan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wadah penting untuk memperkuat iman, ilmu, dan persaudaraan di tengah masyarakat.
“Pengajian Terpadu ini merupakan agenda rutin yang kita laksanakan setiap bulan sebagai wadah silaturahmi, pembinaan, dan penguatan wawasan keislaman,” ujar Syahrir Arfan dalam sambutannya.
Ia juga mengajak seluruh jamaah memanfaatkan setiap pengajian sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kontribusi positif bagi keluarga, persyarikatan, maupun masyarakat luas. Menurutnya, penguatan nilai-nilai keislaman harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Pada sesi utama, Dr. Muhammad Rizal Sulaiman menjelaskan bahwa umat Islam perlu memahami kedudukan bulan Muharram secara benar sesuai tuntunan syariat. Ia menyoroti masih adanya anggapan di sebagian masyarakat yang mengaitkan Muharram dengan kesialan atau larangan melakukan aktivitas tertentu.
“Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Karena itu, tidak tepat apabila Muharram dipandang sebagai bulan sial, bulan tidak baik, atau bulan yang harus dihindari untuk melakukan berbagai aktivitas,” tegas Muhammad Rizal Sulaiman.
Ia menambahkan bahwa pandangan semacam itu lebih dekat kepada tradisi dan kepercayaan yang tidak memiliki landasan dalam ajaran Islam. Karena itu, menurutnya, Muharram justru harus dijadikan momentum untuk memperbanyak amal saleh dan melakukan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.
“Justru Muharram adalah bulan yang mulia dan menjadi momentum untuk memperbanyak amal saleh serta melakukan hijrah menuju kehidupan yang lebih baik,” lanjutnya.
Selain membahas Muharram, Muhammad Rizal Sulaiman juga mengulas makna ibadah kurban sebagai bentuk ketakwaan dan kepedulian sosial yang diwariskan dari keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ia menjelaskan bahwa nilai utama kurban terletak pada keikhlasan dan ketundukan kepada Allah SWT.
“Qurban mengajarkan keikhlasan, ketaatan, dan pengorbanan. Nilai yang sampai kepada Allah bukanlah daging dan darah hewan qurban, melainkan ketakwaan hamba-Nya. Karena itu, semangat qurban harus melahirkan kepedulian sosial, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, ia juga menegaskan bahwa Islam mengajarkan umat untuk membangun optimisme dan keyakinan kepada Allah SWT. Ia menilai umat tidak boleh terjebak pada berbagai anggapan yang dapat melemahkan semangat beribadah, bekerja, dan berkarya dalam kehidupan sehari-hari.
Para peserta mengikuti rangkaian pengajian dengan antusias hingga kegiatan berakhir. Selain memperoleh pemahaman keagamaan yang lebih mendalam, jamaah juga memanfaatkan momentum tersebut untuk mempererat silaturahmi dan memperkuat ukhuwah antarwarga.
Melalui kegiatan ini, PCM Bontomarannu berharap nilai-nilai Islam berkemajuan terus tumbuh dan menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan mengusung semangat “Semangat dalam Harmoni”, pengajian terpadu tersebut diharapkan tetap menjadi media pencerahan umat, memperkuat persaudaraan, serta menumbuhkan optimisme dalam menjalani kehidupan sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.







Tinggalkan Balasan