Iqbal Parewangi Tekankan Kaderisasi Berkelanjutan di Baitul Arqam Muhammadiyah Lempangang

•

GOWA — Senator Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) periode 2015–2019, A.M. Iqbal Parewangi, membawakan materi dalam Baitul Arqam Muhammadiyah Cabang Lempangang di Hutan Pinus Suaraka, Tinambung, Bissoloro, Sabtu, 19 September 2026. Kegiatan tersebut memperkuat pemahaman peserta mengenai hakikat kaderisasi Muhammadiyah melalui pembelajaran sejarah Darul Arqam dan refleksi atas tantangan gerakan pada era digital.

Peserta kegiatan berasal dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Lempangang, Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Lempangang, organisasi otonom (ortom), serta Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se-Cabang Lempangang. Mereka mengikuti penyampaian materi, pemaknaan sejarah, dan refleksi mengenai tanggung jawab kader dalam menjaga keberlanjutan gerakan.

Rumah Kecil yang Melahirkan Gerakan Besar

Dalam materi bertajuk Darul Arqam: Ketika Sebuah Rumah Kecil Melahirkan Manusia-Manusia Besar, Iqbal mengulas peran Al-Arqam sebagai pemuda Muslim awal dari Bani Makhzum. Al-Arqam menempatkan rumah pribadinya di sekitar Bukit Safa, Makkah, sebagai ruang pembinaan umat Islam pada masa awal dakwah Nabi Muhammad SAW.

Iqbal menjelaskan bahwa kontribusi besar tidak selalu bermula dari panggung atau fasilitas yang luas. Menurut dia, kepemimpinan dapat tumbuh ketika seseorang bersedia mewakafkan sesuatu yang dimilikinya untuk kepentingan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

“Yang menentukan bukan luas ruangnya, tetapi kedalaman manusia yang dibentuk di dalamnya,” kata A.M. Iqbal Parewangi saat menyampaikan materi. Ia menekankan bahwa Darul Arqam mengarahkan kaderisasi pada pembentukan kualitas manusia, bukan sekadar menghitung jumlah orang yang berkumpul.

Menurut Iqbal, rumah kecil milik Al-Arqam berkembang menjadi tempat penanaman iman, ilmu, akhlak, ukhuwah, amanah, dan keberanian. Nilai-nilai tersebut kemudian membentuk generasi yang mampu menghadapi tekanan sekaligus memikul tanggung jawab dakwah.

Iqbal juga menggambarkan Makkah ketika itu sebagai ruang sosial yang keras karena kabilah, status, kekayaan, tradisi, dan kekuasaan menjadi ukuran kedudukan seseorang. Kehadiran ajaran tauhid mengguncang tatanan tersebut dengan menempatkan keimanan dan kemuliaan manusia di atas ukuran sosial.

“Darul Arqam bukan pelarian dari masyarakat, melainkan persiapan kembali ke masyarakat,” ujar Iqbal. Karena itu, ia menilai proses kaderisasi harus mempersiapkan peserta untuk terlibat dan menjawab persoalan nyata di tengah kehidupan sosial.

Tantangan Kaderisasi pada Era Digital

Selain membahas sejarah, Iqbal menghubungkan semangat Darul Arqam dengan realitas pemuda pada era digital. Ia memaparkan bahwa 96,69 persen pemuda Indonesia terhubung dengan internet, sedangkan penggunaannya antara lain untuk hiburan sebesar 91,16 persen, mencari informasi 90,41 persen, media sosial 88,85 persen, dan pembelajaran daring 16,25 persen.

Ia juga mengutip survei Chegg 2025 yang mencatat 95 persen mahasiswa Indonesia menggunakan kecerdasan buatan generatif untuk mendukung kegiatan studi. Menurut Iqbal, tingginya keterhubungan tersebut belum otomatis melahirkan kedalaman berpikir, kematangan moral, dan kemampuan menilai kebenaran.

“Ketika mesin memberi jawaban, manusia harus belajar bertanya dengan benar,” katanya. Darul Arqam abad ke-21, lanjut dia, perlu membantu kader menggunakan teknologi secara produktif tanpa kehilangan adab, daya kritis, dan kompas moral.

Iqbal menilai teknologi dapat memperkuat sistem kaderisasi melalui pengelolaan data, pemetaan kompetensi, dan penyusunan tindak lanjut. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan hubungan antarmanusia dan keteladanan yang menjadi inti pembentukan kader.

“Database tidak menciptakan keikhlasan. Dashboard tidak menggantikan keteladanan,” tegasnya. Menurut dia, digitalisasi kaderisasi tetap harus diikuti proses pendampingan yang menumbuhkan integritas, keberanian, keikhlasan, dan tanggung jawab.

Dari Kegiatan Menuju Ekosistem Kaderisasi

Dalam pemaparannya, Iqbal menyebut besarnya jaringan Muhammadiyah sebagai amanah yang harus dijaga ruh gerakannya. Jaringan tersebut meliputi 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA), lebih dari 800.000 mahasiswa, sekitar 1,1 juta siswa sekolah Muhammadiyah, 128 rumah sakit, lebih dari 5.500 sekolah Muhammadiyah, serta lebih dari 20.000 Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA).

Menurut Iqbal, aset dan institusi dapat diwariskan, tetapi nilai gerakan harus terus ditanamkan kepada setiap generasi. Ia menilai profesionalisme tanpa nilai dapat kehilangan arah, sedangkan nilai tanpa profesionalisme akan kehilangan daya guna.

Iqbal menjelaskan bahwa kader bukan sekadar peserta yang hadir dalam kegiatan formal. Seorang kader harus mampu bersikap jujur ketika tidak diawasi, tetap bekerja saat tidak mendapat pujian, menjaga amanah setelah jabatan berakhir, dan berpikir kritis tanpa merusak adab.

Karena itu, ia mendorong perubahan pola kaderisasi dari kegiatan sesaat menuju ekosistem yang berkelanjutan. Proses tersebut mencakup pembentukan dasar melalui Darul Arqam, pendampingan, pemetaan kompetensi, pemberian ruang pengabdian nyata, dan penempatan kader pada bidang-bidang strategis.

Pada akhir materi, peserta diajak menilai perubahan yang harus dilakukan setelah mengikuti Baitul Arqam, termasuk dalam menjaga amanah, mendengarkan orang lain, menyampaikan kebenaran, dan memberi ruang kepada generasi muda. Kegiatan ini diharapkan berlanjut melalui pendampingan dan pengabdian konkret agar Muhammadiyah Cabang Lempangang terus melahirkan kader beriman, berilmu, berintegritas, serta siap berkhidmat kepada umat dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *