IMM Gowa Bahas Manusia dalam Era Post-Truth dan Penguatan Nalar Kritis Kader

Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Gowa (PC IMM Gowa) menggelar Darul Arqam Madya (DAM) Nasional IX di Pusat Dakwah Muhammadiyah Gowa Gowa, Rabu, 13 Mei 2026. Kegiatan bertema “Digital Intellectualism; Rebranding Gerakan IMM di Era Post Truth” itu menghadirkan Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PWM Sulsel, Dr. Hadi Saputra, S.Pd., M.Si., sebagai narasumber, yang membawakan materi tentang manusia dalam pusaran era post-truth.

Forum tersebut diikuti puluhan peserta dari berbagai komisariat IMM dan daerah. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran kritis kader dalam menghadapi arus informasi digital, maraknya hoaks, serta fenomena manipulasi opini di media sosial yang dinilai semakin memengaruhi cara berpikir masyarakat.

Dalam pemaparannya, Hadi menjelaskan bahwa era post-truth merupakan kondisi ketika emosi dan keyakinan pribadi lebih dominan dibanding fakta objektif. Ia menyebut fenomena tersebut lahir dari dinamika sosial-politik global yang berkembang melalui media digital dan media sosial.

“Post-truth itu adalah iklim sosial politik di mana objektivitas dan rasionalitas dikesampingkan oleh emosi dan hasrat memiliki keyakinan tertentu meskipun fakta menunjukkan sebaliknya,” kata Hadi di hadapan peserta DAM Nasional IX.

Ia menilai perkembangan media sosial membuat setiap orang memiliki ruang untuk menjadi penyebar informasi. Namun, di sisi lain, kondisi itu juga memunculkan persoalan baru berupa penyebaran informasi yang tidak terverifikasi dan berkembangnya narasi alternatif di ruang digital.

Menurut Hadi, fenomena post-truth tidak hanya berkaitan dengan kebohongan, tetapi juga cara memengaruhi publik melalui permainan bahasa dan pengaburan fakta. Ia mencontohkan bagaimana opini sering kali dicampur dengan fakta sehingga masyarakat kesulitan membedakan informasi yang valid dan manipulatif.

“Di era post-truth, orang tidak mau dibilang berbohong. Yang muncul adalah istilah kebenaran alternatif,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa bahasa kini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan instrumen kekuasaan untuk membangun pengaruh dan legitimasi di ruang publik.

Hadi juga menyoroti pengaruh algoritma media sosial terhadap pola pikir masyarakat. Menurut dia, algoritma membuat pengguna lebih sering menerima informasi yang sejalan dengan keyakinan pribadi sehingga membentuk ruang gema atau echo chamber. Kondisi itu, kata dia, dapat membuat seseorang sulit menerima pandangan berbeda dan lebih mudah terjebak dalam polarisasi informasi.

Ia menjelaskan bahwa media sosial saat ini mendorong budaya sensasionalitas dan viralitas. Dalam situasi tersebut, kualitas informasi sering kali kalah oleh kecepatan penyebaran konten. Hadi menyebut fenomena itu menjadi salah satu penyebab hoaks tumbuh subur di tengah masyarakat digital.

“Hoaks itu memang anak kandung era post-truth, karena orang berlomba mengejar sensasi dan viralitas,” katanya. Ia menegaskan bahwa masyarakat saat ini harus lebih berhati-hati dalam menerima dan membagikan informasi di media sosial.

Dalam sesi diskusi, sejumlah peserta mempertanyakan dampak post-truth terhadap kemampuan berpikir kritis generasi muda. Menanggapi hal itu, Hadi mengatakan era digital sebenarnya dapat menjadi peluang apabila masyarakat mampu meningkatkan literasi dan kesadaran kritis dalam mengelola informasi.

Ia menilai salah satu cara menjaga kemampuan berpikir kritis adalah dengan membangun budaya membaca dan memperkuat tradisi akademik. Menurut dia, kemudahan teknologi dan kecerdasan buatan tidak boleh membuat mahasiswa kehilangan kebiasaan berpikir mendalam dan melakukan verifikasi informasi secara mandiri.

“Satu-satunya instrumen untuk melawan era post-truth dan hoaks adalah keterampilan berpikir kritis,” ujar Hadi. Ia juga mengingatkan peserta agar tidak hanya bergantung pada informasi instan dari media sosial maupun teknologi kecerdasan buatan.

Ketua panitia DAM Nasional IX IMM Gowa, A. Aidil Fitri, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung kegiatan tersebut. Ia mengatakan forum DAM menjadi ruang penguatan intelektual kader IMM dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks di era digital.

Selain menghadirkan materi tentang post-truth, DAM Nasional IX IMM Gowa juga dijadwalkan menghadirkan sejumlah agenda pengkaderan dan diskusi strategis lainnya hingga 17 Mei 2026. Melalui kegiatan itu, IMM Gowa berharap kader mampu memperkuat tradisi intelektual, literasi digital, dan kesadaran kritis dalam menjalankan gerakan dakwah di tengah perkembangan teknologi informasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *