Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Gowa membuka kegiatan Darul Arqam Madya (DAM) Nasional IX di Pusat Dakwah Muhammadiyah (Pusdam) Gowa, Rabu, 14 Mei 2026. Kegiatan yang mengusung tema “Digital Intellectualism; Rebranding Gerakan IMM di Era Post-Truth” ini bertujuan membentuk kader IMM yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ruang digital tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan intelektualitas. Pembukaan DAM Nasional IX dihadiri jajaran pimpinan IMM, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gowa, serta kader IMM dari berbagai daerah.
Ketua Panitia DAM Nasional IX IMM Gowa, A. Aidil Fitri, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan tersebut. Ia mengatakan sebanyak 53 orang mendaftar sebagai peserta DAM Nasional IX dan 41 peserta dinyatakan lolos seleksi untuk mengikuti kegiatan kaderisasi yang berlangsung pada 13–18 Mei 2026. Aidil juga meminta peserta yang belum lolos agar tetap semangat dalam menjalani proses kaderisasi di IMM.
“Ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan ini, baik panitia, sponsor, maupun peserta dan tamu undangan yang telah meluangkan waktu dan pikirannya untuk hadir dalam forum intelektual ini. Hari ini kita hidup di tengah derasnya arus informasi digital, di mana kebenaran sering kali dikalahkan oleh opini, sensasi, dan viralitas,” ujar Aidil.
Ketua Cabang IMM Gowa, Nurafni, mengatakan DAM Nasional IX menjadi ruang pembinaan kader untuk memperkuat gerakan intelektual di tengah derasnya arus informasi digital. Menurut dia, kader IMM harus mampu hadir sebagai pelopor gerakan keilmuan sekaligus membawa nilai Islam di ruang digital.
“Kami mengharapkan keluaran DAM ini menjadi kader intelektual, tidak hanya menjadi aktivis di dunia nyata tetapi juga mampu menjadi aktivis di dunia digital dengan membawa nilai-nilai keislaman dan menjadi garda terdepan kemaslahatan di ruang-ruang digital,” kata Nurafni dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, tantangan gerakan mahasiswa saat ini tidak hanya berada pada aktivitas organisasi secara konvensional, tetapi juga pada kemampuan membangun pengaruh positif melalui media digital. Karena itu, IMM Gowa mendorong kader untuk memiliki kapasitas intelektual dan literasi digital yang kuat.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM Sulawesi Selatan, Adrian, menegaskan pentingnya konsistensi kader IMM dalam membangun tradisi intelektual. Ia mengingatkan agar kader tidak hanya menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai simbol gerakan keilmuan tanpa dibarengi kerja intelektual yang nyata.
“Jangan sampai kita menjadikan Nabi Muhammad sebagai patron pergerakan keilmuan, tetapi kita sendiri malas dalam melakukan gerakan-gerakan intelektual,” ujar Adrian.
Adrian juga menekankan pentingnya kehadiran kader IMM di media sosial dengan tetap membawa identitas gerakan Islam berkemajuan. Menurut dia, kader IMM yang menjadi influencer harus mampu menghadirkan konten yang bernilai islami dan intelektual di tengah maraknya informasi yang tidak terverifikasi di era post-truth.
“Ketika menjadi influencer, jangan menjadi influencer seperti lainnya tanpa menekankan nilai islami dan intelektual,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gowa, Dr. Sayrifuddin Kulle, M.Pd., menyebut peserta DAM Nasional IX merupakan kader pilihan yang telah melewati tahapan seleksi. Ia menilai forum tersebut menjadi bagian penting dalam proses kaderisasi IMM sebagai organisasi nasional.
“Yang hadir pada malam hari ini adalah orang-orang pilihan dan di dalam forum semuanya adalah peserta yang bergelar immawan dan immarawati sebagai calon peserta pilihan,” ujar Sayrifuddin.
Dalam sambutannya, Sayrifuddin turut membagikan pengalamannya selama aktif di IMM sejak 1988. Ia menegaskan IMM bukan sekadar organisasi daerah, melainkan organisasi nasional yang memiliki peran besar dalam melahirkan kader persyarikatan dan pemimpin umat.
Ia juga menilai tantangan yang dihadapi IMM akan selalu ada, tetapi dapat diatasi melalui kapasitas intelektual kader. Menurut dia, kader IMM harus terus berkembang dan tidak berhenti pada satu titik perjuangan organisasi.
“Jangan pernah berhenti di satu titik, tetapi teruslah berkembang dan berkemajuan,” katanya.
Kegiatan DAM Nasional IX IMM Gowa diharapkan mampu melahirkan kader yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital tanpa kehilangan identitas keislaman dan semangat gerakan intelektual. Selain menjadi ruang penguatan ideologi organisasi, forum tersebut juga diproyeksikan menjadi wadah pembentukan kader yang mampu menjawab tantangan era post-truth secara kritis dan berkemajuan.







Tinggalkan Balasan