PCM Bungaya dan Ponpes Darul Darul Fallaah Gelar Pengajian dan Dialog Genealogi Palestina

BISSOLORO, GOWA — Pondok Pesantren Darul Fallaah Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar di Bissoloro bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bungaya menggelar Pengajian Bulanan dan Dialog Genealogi Palestina, Jumat, 9 Mei 2026. Kegiatan bertema “Membesarkan Fisik dan Mental Anak Menurut Al-Qur’an” itu menghadirkan narasumber asal Palestina, Dr. dr. Ibrahim Abdullah, serta dihadiri masyarakat, santri, tokoh Muhammadiyah, dan pemerintah desa.

Kegiatan tersebut digelar sebagai upaya memperkuat pendidikan karakter generasi muda, memperluas wawasan keislaman, dan menumbuhkan kepedulian kemanusiaan terhadap kondisi Palestina. Dialog berlangsung khidmat dengan dipandu moderator Gunawan Hatmin dan diterjemahkan oleh Muhammad Heri, alumni KPI-Ma’had Al-Birr Unismuh Makassar.

Direktur Pondok Pesantren Darul Fallaah Unismuh Makassar di Bissoloro, Dr. Dahlan Lamabawa, S.Ag., M.Ag., menegaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen pesantren dalam menghadirkan pendidikan Islam yang terbuka dan berwawasan global. Menurut dia, pesantren harus mampu menghadirkan pengalaman internasional bagi santri dan masyarakat.

“Darul Fallaah ingin terus tumbuh menjadi pesantren yang tidak hanya unggul dalam pembinaan akademik dan karakter, tetapi juga mampu menghadirkan ruang dialog internasional. Kehadiran narasumber langsung dari Palestina menjadi bukti bahwa pesantren di daerah pun mampu membangun koneksi keilmuan dan kemanusiaan yang lebih luas,” ujar Dahlan.

Dahlan menjelaskan, pengalaman masyarakat Palestina memberikan pelajaran penting mengenai keteguhan hidup, kedisiplinan, dan kekuatan mental generasi muda Islam. Ia menilai anak-anak Palestina mampu bertahan di tengah keterbatasan karena kuatnya pendidikan keluarga dan kedekatan mereka dengan Al-Qur’an.

“Dari Palestina kita belajar tentang keteguhan hidup, kekuatan keluarga, dan kedekatan dengan Al-Qur’an. Anak-anak kita hari ini harus belajar bersyukur, disiplin, dan memiliki mental yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman,” katanya.

Dalam sesi dialog, Dr. dr. Ibrahim Abdullah membagikan pengalaman hidupnya selama bertugas sebagai dokter di Palestina. Ia mengaku harus bekerja hampir 20 jam setiap hari di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan akibat konflik berkepanjangan.

Ia juga menceritakan pengalaman pribadi ketika istri dan anaknya meninggal akibat serangan Zionis Israel. Kisah itu membuat suasana pengajian menjadi emosional dan menyentuh perhatian para peserta yang hadir.

“Anak-anak Palestina tumbuh di tengah suara bom, rudal, dan peperangan. Namun, mereka tetap belajar dan mempertahankan harapan hidup,” ujar Ibrahim dalam dialog tersebut.

Ibrahim menerangkan, masyarakat Palestina masih menghadapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, pendidikan, hingga akses air bersih. Sebagian warga, kata dia, harus menampung air hujan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Meski hidup dalam tekanan, ia menilai anak-anak Palestina memiliki daya tahan mental dan kreativitas yang tinggi. Mereka memanfaatkan serpihan kendaraan, besi, dan material bangunan untuk membuat berbagai kebutuhan sederhana. Penjelasan itu menunjukkan bagaimana kondisi perang membentuk karakter bertahan hidup masyarakat Palestina.

Ketua PCM Bungaya, H. Samsuddin, mengatakan pengajian bulanan tersebut merupakan bagian dari dakwah dan pembinaan umat yang terus dibangun bersama Darul Fallaah. Ia menyebut sinergi antara Muhammadiyah dan pesantren penting untuk memperluas wawasan umat terhadap persoalan dunia Islam dan nilai kemanusiaan.

Kepala Desa Bissoloro, Abdul Rahim atau DG Nassa, turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia berpandangan dialog internasional seperti ini mampu memperkuat karakter generasi muda sekaligus meningkatkan kepedulian sosial masyarakat terhadap isu kemanusiaan global.

Selain menjadi narasumber utama dialog, Ibrahim juga mengisi sejumlah agenda pembinaan di lingkungan pesantren. Ba’da Isya, ia memberikan pengajaran dasar bahasa Arab dan bahasa Inggris kepada santri, lalu melanjutkan kultum Subuh dan orasi pagi pada apel santri keesokan harinya.

Melalui kegiatan tersebut, Ponpes Darul Fallaah bersama PCM Bungaya berharap pengajian bulanan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi berkembang menjadi ruang dakwah, pendidikan karakter, dan penguatan solidaritas kemanusiaan bagi generasi muda Islam di Kabupaten Gowa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *